Senin, 31 Oktober 2011

Sepenggal Cerita


SEPENGGAL EPISODE DI BULAN OKTOBER 2011

Sabtu, 1 oktober 2011 mulai babak baru secara angka berganti. Tangisnya mengagetkanku dalam keheningan tausiyah seorang ustadz. Rasa bersalah begitu mendalam tatkala lupa tak menunaikan janji. Kawan, itu bukan salahmu dan kurang baik kalau terlalu menyalahkan diri sendiri, mari kita perbaiki. Bukan untuk pembenaran diri atas kejadian ini, namun kita mesti ingat bahwa manusia dibekali dengan sifat pelupa. Ini bukan salahmu wahai saudariku, ini mutlak karena khilaf. Mari kita belajar berhusnudzon pada rencanaNY, bisa jadi khilaf ini adalah teguran bagi kita atas khilaf-khilaf kita selama ini yang belum tertaubati. Di sisi lain bisa jadi ini jalan agar diri semakin dewasa dalam memaknai masalah hidup, mungkin juga Alloh ingin agar dirimu berhenti sejenak dari segudang aktivitas, bukan untuk berhenti dalam menapaki amanah yang diemban , namun rehat sejenak untuk mengeksekusi lagi segala rencana awal kita. Menjaga perasaan  bersalah itu baik, terlebih itu dilakukan dihadapanNY, namun menjadi kurang baik jika itu dilakukan terhadap makhluk. Ada kenikmatan memaknai setiap peristiwa masalah yang mengghampiri kita.
Setiap peristiwa selalu setia menghampiri, memaknainya adalah sebuah kebijaksanaan. Keputusan menentukan sesuatu mengiringi keberjalanan hidup, keputusan untuk menjadi baik atau sebaliknya ditentukan oleh kita sebagai pelaku kehidupan. Adapun orang lain hanya sebatas pertimbangan saja dan itu tidak bisa menjadikan sebagai keputusan kita. Memaksimalkan berpikir sebelum bersikap itu penting.
Sebaiknya setiap kita mesti mengeja ulang makna kehidupan yang sedang kita jalani, ada baiknya itu dilakukan karena akan berpengaruh pada orientasi kinerja akhir, yang terkadang niat itu rentan dengan virus-virus pemusnah orientasi akhirat.
Alam selalu setia tunduk pada titahNY, setiap tempat memiliki cuaca yang kadang tidak sama. Perjalanan tasik-panumbangan menjadi saksi keragaman ciptaanNY, luar biasa…, subhanalloh, terima kasih ya Alloh, alahamdulillah diri ini bisa mentafakuri semua ciptaanMu meski hanya sebagian saja.

Ungkapan ; Rencana adalah jembatan menuju mimpimu, jika tidak membuat rencana berarti tidak memiliki pijakan langkahmu menuju apa yang kamu cita-citakan. Gagal dalam merencakan berarti merencanakan kegagalan. Setiap apa pun haru s masuk dalam daftar rencana hidup kita, meski demikian pada realitanya hak penuh Alloh yang menentukan. Kita tak boleh menyesali keadaan, namun alangkah bijaknya jika kita memaknai setiap peristiwa yang menghampiri dengan sikap terbaik, menyerahkan setiap urusan kita padaNY.
Momentum 2 tahun pemerintahannya SBY-Boediono harus kita cermati bersama, bukankah saya, Anda dan kita semua bagian dari Republik ini ? setiap kita memiliki peran masing-masing dalam membenahi bangsa kita. Anda sebagai pelajar, maka jadilah pelajar yang sesungguhnya, belajar dengan maksimal, tidak melakukan korupsi sebagai siswa atau mahasiswa (korupsi = Menyontek), kita atau Anda sebagai guru alangkah bijaksananya jika mengajar dengan sepenuh hati menjadi guru yang sesungguhnya memberikan teladan dan mendidik anak muridnya dengan baik. Mari kita benahai bangsa ini dimulai dari pribadi kita masing-masing, do’akan selalu bangsa ini agar berlalu dari keterpurukan, memiliki pemimpin yang layak untuk memimpin seperti para sahabat, terima kasih Pak SBY atas semua cinta yang engkau torehkan untuk bangsa ini, untuk kemajuan bangsa.

Sebuah cerita tentang seseorang yang bangun tidur dan merenungkan tentang kunci sukses hidupnya…,
jendela kamar bilang, “Lihatlah dunia luar!”
langit-langit kamar berkata,”bercita-citalah setinggi mungkin!”,
jam dinding berdetak, “setiap menit itu berharga!”
cermin bergumam, “Berkacalah sebelum bertindak!”
kalender berbicara, jangan menunda sampai esok!”,
Pintu berteriak,”Bukalah hidupmu dengan semangat dan bergeraklah!”
tapi yang wajib diperhatikan adalah pesan bijak permadani lantai, “Bersujudlah dan berdo’alah”

Alloh selalu punya cara untuk memberhentikan setiap aktivitas kita, sejenak fisikku teristirahatkan karena sakit yang kembali menyerang aktivitasku. Namun, pikirku masih menerawang jauh ke sana ke alam aktvitas dakwahku. Ada banyak amanah yang terabaikan karena sakitku ini, semoga masih bisa tertunaikan dengan baik, meski secara waktu telat. Tapi, aku yakin Alloh selalu punya cara dalam menolong setiap kebutuhan hambaNY…, Bismillah

Bersama siapa pun, pastikan kita saling menumbuhkan. Bertumbuh dalam hal apa pun terutama bertumbuh untuk terus mengenalNY dalam setiap makna hidup. Ketika seorang teman menyakiti kita, maka hendaklah kita menuliskan kejahatannya di atas pasir. Agar ada angin toleransi yang meniupnya sehingga ia terhapus dengan mudah. Tapi ketika seorang teman berbuat baik pada kita, maka tulislah kebaikannya itu di atas batu. Agar tidak ada jenis angin apa pun yang dapa menghapuskannya. Meskipun ada perselisihan, tapi di sana selalu ada maaf meskipun hanya dalam diam. Satu sama lainnya saling membalut oleh kearifan dan jiwa pun semakin terikat, saling tumbuh dan menyatu, seperti sabda Rosululloh saw, “jiwa-jiwa yang saling berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka saling berselisih.”[H.R. Muslim]. Kita memang perlu untuk saling menumbuhkan dan menguatkan satu sama lainnya. Maka bertumbuh itu akan berbeda dengan hidup, krena bertumbuh jauh lebih luas dari hanya sekedar hidup.
Mari saling menumbuhkan agar kita semakin tumbuh menjadi pribadi yang terus tumbuh dan saling menumbuhkan ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar