Rabu, 19 Oktober 2011

Cerita tentang nya


TERLANJUR JATUH CINTA PADA KAMMI

“Renunganku. Yah, ini adalah sebuah renungan atas kebersamaanku selama ini dengan KAMMI selama hampir menginjak 3 tahun ini”.
—Renunganku di Bumi Siliwangi; Awal Mei 2010—


Aku mesti bersyukur kepada-Nya atas berbagai karunia yang sangat luar biasa; atas nikmatnya beriman dan berislam dalam kebersamaan bersama sahabat-sahabat seperjuangan di KAMMI. Sungguh, ini semata-mata bukanlah suatu kebetulan, melainkan rencana-Nya. Alhamdulillah,  aku bisa berada dalam barisan dakwah ini bersama mereka; wa bil khusus di KAMMI.
Ada sebuah keunikan tersendiri selepas membaca buku dan membedah bedah buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI (MAMK). Keunikannya aneh dan terkadang membuat aku tersenyum-senyum. Mengapa? Karena aku mengenang perjalanku bersama mereka, sahabat-sahabat seperjuanganku di KAMMI selama ini. Selebihnya aku menangis. Yah, aku menangis bukan karena cengeng atau mengikuti orang lain selepas membaca MAMK tapi lebih kepada nuansa hati yang tak tergambarkan. Ya karena…..akulah yang merasakan apa yang aku alami, yang boleh jadi mungkin sahabat-sahabatku yang lainnya pun pernah merasakannya.
 Jujur, kini aku menemukan kembali semangat dakwah yang dahsyat, semangat para pemenang dan pejuang dakwah. Ya, aku mengenang mereka adalah pemenang. Mengapa? Karena lewat tangan-tangan merekalah nilai-nilai dakwah ini masih tersambung hingga saat ini. Segala rasa, cita dan citra dakwah aku peroleh dari sini dan di sini. Walau hanya salah satu sarana, namun aku rasakan itu di sini; tentu selain dari sarana yang lain. Meminjam perkataan Pak Aris Ahmad Jaya dalam buku 30 Hari Mencari Jati Diri, “Sang pemenang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak akan pernah menang”. Rumus praktis sang pemenang, “Sang pemenang tidak melakukan sesuatu yang beda, pemenang hanya melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda”. Dan kutemukan mereka-mereka yang tak kenal lelah dan menyerah itu di sini, aku menemukan mereka di KAMMI ini. Mulai dari kader yang super tegas mengurusi kader dan keunikan lainnya yang kadang itulah yang menjadi pembeda kader KAMMI dengan kader dakwah lainnya; “kadang tak mau diatur dan agresif terhadap wacana yang ada, luarbiasa……”, itulah kata yang terucap saat ini.
Saya masih teringat akan perjalanan selama hampir menginjak 3 tahun ini di KAMMI. Beberapa hal masih terrekam jelas dalam memori; serasa baru kemarin mengalaminya. Mulai dari Training Kepemimpinan Tingkat I (DM1), kajian rutin dan beberapa aksi yang sempat kuikuti. Out Bound (OB) yang sempat kualami sewaktu mengikuti Dauroh Marhalah 2 (DM2) di Daerah Bandung adalah salah satu yang membuat kuingin meneteskan air mata. Ya, itulah saat-saat di mana aku dan sahabat-sahabatku sebagai peserta DM 2 melakukan perjalan malam layaknya para pejuang Islam terdahulu yang berangkat berperang atau pun berhijrah di sepertiga malam. Sepanjang perjalanan yang terbesit hanyalah, “Mungkinkah ini waktu terakhirku berjuang bersama-sama dalam meneggakkan Islam?”, “Keluarga, Teman-teman seperjuangan di Tasikmalaya”, namun hal itu tidak lama karena aku sadar mereka sekarang berada jauh di sana dan aku memang sedang berjuang di sini.
Dauroh Marhalah I KAMMI Komisariat UNSIL membawa angin segar dalam hati dan jiwa-jiwa perindu surga-Nya. Ada ketegaran mengiringi kebeberlangsungan agenda ini, ada peluh dan keluh yang seolah-olah berusaha tak diperlihatkan—semacam di sembunyikan—dari wajah-wajah tegar itu. Ada tawa yang menyertai semua kelelahan fisik mereka, tapi ada semangat (hamasah) dalam jiwa-jiwa pejuang dakwah masih menjadi suluh yang terpecik dalam tatapan mata mereka. Dalam pikiranku terbesit, “Inilah salah satu kekuatan untuk kebangkitan Indonesia. Pada saat ini masih ada sekelompok orang yang mau rela-rela mengorbankan dirinya di saat orang lain tidur terlelap dan berakhir pekan. Wahai saudara-saudariku, tenanglah, surga Allah telah menanti kedatangan kita, dan itu sungguh menggiurkan kalau saja kita tahu, yakin Indonesia pasti bangkit”.
Ya, walau sederhana, ini adalah sedikit kenangan yang sempat kuungkap melalui goresan penaku. Sahabat-sahabatku, coretan ini tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan kalian. Kalian adalah tempat aku belajar mengenai banyak hal; mengenai perjuangan, pengorbanan, keteguhan dan ukhuwah. Semuanya aku temukan di sini. Ya di KAMMI. Aku memperoleh keistimewaan di atas nilai-nilai itu bersama sahabat-sahabat semua, dari sahabat-sahabat semua.
Sahabat-sahabat, perjuangan ini tak kan berakhir di sini, dalam bentukan coretan sederhana. Ini hanyalah percikan kecil. Karena aku percaya bahwa perjuangan ini akan kita lanjutkan hingga agama Allah ini menemukan takdir kejayaannya bersama kita dan penerus kita. Selanjutnya, kalau selama ini ada tingkah, sikap dan lisan yang melukai hati dan perasaan, izinkan diri ini tuk memohon maaf. Aku bukanlah siapa-siapa, karena aku masih belajar menjadi yang terbaik. Karena itu, sempurnakan kekuranganku dan kuatkanlah kelemahanku. Karena sahabat-sahabat semua, aku bukan siapa-siapa.
Akhirnya, mudah-mudahan coretan ini menjadi saksi persahabatan dan persaudaraanku dengan kader-kader KAMMI; untuk sebuah ide dan cita-cita: Bangkitkan Indonesia, Menangkan Islam! Sahabat-sahabatku, selamat berjuang![editor : Pak Syamsudin Kadir]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar