Sabtu, 17 Desember 2011

Kelelahan berbuah hikmah...,


HIKMAH DI BALIK LELAH
Saya adalah seorang mahasiswi semester akhir dari FKIP Matematika. Keseharianku, agak sedikit  berbeda dengan temen-temen sekelasku. Keseharianku diisi dengan aktivitas kuliah, kerja di lembaga amil zakat, ngeprivat dan tentunya ngamen hehehe maksudnya ngamentoring. Ada keindahan tersendiri ketika diri ini selalu bersilaturahim, ya..,, benar apa yang disampaikan oleh hadist Rosululloh saw, bahwasannya silaturahim dapat memperpanjang usia. Dalam hal ini memperluas jaringan.
Kejadiannya sekitar 1 bulan yang lalu, ketika saya masih proses menuntaskan agenda kampus yaitu PPL-KKN di suatu sekolah SMP N RSBI di kotaku yang sekarang ditempati. Aktivitas selama PPL-KKN memang sedikit membuat perubahan pada jadwal harian, serasa menjadi anak SMP dan SMA lagi karena setiap hari harus sudah berada di sekolah sejak jam 7 sampai sekitar jam 13.00. Kamis itu sungguh bersejarah bagiku. Tidak seperti biasanya, kamis itu aku pulang agak sedikit sore karena harus mengisi dahaulu ekskul di sekolah, fisikku lelah sedangkan sore harinya ada syuro di mesjid agung. Jadi, saya putuskan untuk tidak pulang dahulu ke kosan, ya biar mengirit ongkos jalannya begitu hehehe…,[waktu itu tengah-tengah bulan, keuanganku sedang sedikit limited].
Ku lepas lelah seharian di sekolah dengan merebahkan diri di tiang mesjid sambil menunggu waktu shalat Ashar, tak sadar aku terpikir dengan kondisi orang tuaku. Ya, mereka merasakan lelah seperti ini tiap hari bahkan lebih lelah daripada apa yang aku rasakan, sampai-sampai ada butiran Kristal mengalir dari kedua mataku.
Sampai juga waktu ashar, Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan oleh Alloh untuk melakukan shalat berjamaah dengan mudah, semoga kekhusyuan menyertai amal-amalku aamiin. Selepas shalat kulanjutkan dengan tilawah, saat tilawah air mataku berjatuhan teringat akan kondisiku yang lelah dan kedepan ada beberapa aktivitas yang memerlukan uang yang tidak sedikit sedangkan….., Ya Alloh………,
            Hpku berdering, tertulis sebuah pesan “teh, aku mah gak kesana ya?” ya, aku tersadar waktu syuro tinggal beberapa menit dan belum ada yang datang.., kulihat hp yang satu lagi, banyak pesan dan panggilan masuk yang tak terjawab ternyata dari rumah mengabarkan bahwa ayahku mau menjengukku sore ini, aku kaget, sangat kaget karena aku masih belum pulang ke kosan dan akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan syuro yang belum dimulai untuk melepaskan kerinduanku pada keluarga.
Alhamdulillah ayahku membekali beberapa lembar uang untuk beberapa hari ke depan. Alhamdulillah ya Alloh, “wayarzuqhu min haistu laa yahtasib”, padahal ayahku belum jadwalnya untuk menengokku tapi Alloh lah yang mengatur ini semua sehingga kejadian ini terjadi. Alhamdulillah, semoga keyakinanku dan kita semua selalu bertambah seiring dengan  peristiwa yang terjadi pada kita, karena sesungguhnya itulah keberkahan dari semua yang terjadi ketika kita mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kita dan membuat kita tambah yakin pada Alloh swt, Pemilik diri kita dan semua yang ada di dunia fana ini. Semoga peristiwa ini menjadi inspirasi dan hikmah bagi semua yang membaca.
NURYANI
30 November 2010
Universitas SIliwangi, Tasikmalaya

Senin, 31 Oktober 2011

Sepenggal Cerita


SEPENGGAL EPISODE DI BULAN OKTOBER 2011

Sabtu, 1 oktober 2011 mulai babak baru secara angka berganti. Tangisnya mengagetkanku dalam keheningan tausiyah seorang ustadz. Rasa bersalah begitu mendalam tatkala lupa tak menunaikan janji. Kawan, itu bukan salahmu dan kurang baik kalau terlalu menyalahkan diri sendiri, mari kita perbaiki. Bukan untuk pembenaran diri atas kejadian ini, namun kita mesti ingat bahwa manusia dibekali dengan sifat pelupa. Ini bukan salahmu wahai saudariku, ini mutlak karena khilaf. Mari kita belajar berhusnudzon pada rencanaNY, bisa jadi khilaf ini adalah teguran bagi kita atas khilaf-khilaf kita selama ini yang belum tertaubati. Di sisi lain bisa jadi ini jalan agar diri semakin dewasa dalam memaknai masalah hidup, mungkin juga Alloh ingin agar dirimu berhenti sejenak dari segudang aktivitas, bukan untuk berhenti dalam menapaki amanah yang diemban , namun rehat sejenak untuk mengeksekusi lagi segala rencana awal kita. Menjaga perasaan  bersalah itu baik, terlebih itu dilakukan dihadapanNY, namun menjadi kurang baik jika itu dilakukan terhadap makhluk. Ada kenikmatan memaknai setiap peristiwa masalah yang mengghampiri kita.
Setiap peristiwa selalu setia menghampiri, memaknainya adalah sebuah kebijaksanaan. Keputusan menentukan sesuatu mengiringi keberjalanan hidup, keputusan untuk menjadi baik atau sebaliknya ditentukan oleh kita sebagai pelaku kehidupan. Adapun orang lain hanya sebatas pertimbangan saja dan itu tidak bisa menjadikan sebagai keputusan kita. Memaksimalkan berpikir sebelum bersikap itu penting.
Sebaiknya setiap kita mesti mengeja ulang makna kehidupan yang sedang kita jalani, ada baiknya itu dilakukan karena akan berpengaruh pada orientasi kinerja akhir, yang terkadang niat itu rentan dengan virus-virus pemusnah orientasi akhirat.
Alam selalu setia tunduk pada titahNY, setiap tempat memiliki cuaca yang kadang tidak sama. Perjalanan tasik-panumbangan menjadi saksi keragaman ciptaanNY, luar biasa…, subhanalloh, terima kasih ya Alloh, alahamdulillah diri ini bisa mentafakuri semua ciptaanMu meski hanya sebagian saja.

Ungkapan ; Rencana adalah jembatan menuju mimpimu, jika tidak membuat rencana berarti tidak memiliki pijakan langkahmu menuju apa yang kamu cita-citakan. Gagal dalam merencakan berarti merencanakan kegagalan. Setiap apa pun haru s masuk dalam daftar rencana hidup kita, meski demikian pada realitanya hak penuh Alloh yang menentukan. Kita tak boleh menyesali keadaan, namun alangkah bijaknya jika kita memaknai setiap peristiwa yang menghampiri dengan sikap terbaik, menyerahkan setiap urusan kita padaNY.
Momentum 2 tahun pemerintahannya SBY-Boediono harus kita cermati bersama, bukankah saya, Anda dan kita semua bagian dari Republik ini ? setiap kita memiliki peran masing-masing dalam membenahi bangsa kita. Anda sebagai pelajar, maka jadilah pelajar yang sesungguhnya, belajar dengan maksimal, tidak melakukan korupsi sebagai siswa atau mahasiswa (korupsi = Menyontek), kita atau Anda sebagai guru alangkah bijaksananya jika mengajar dengan sepenuh hati menjadi guru yang sesungguhnya memberikan teladan dan mendidik anak muridnya dengan baik. Mari kita benahai bangsa ini dimulai dari pribadi kita masing-masing, do’akan selalu bangsa ini agar berlalu dari keterpurukan, memiliki pemimpin yang layak untuk memimpin seperti para sahabat, terima kasih Pak SBY atas semua cinta yang engkau torehkan untuk bangsa ini, untuk kemajuan bangsa.

Sebuah cerita tentang seseorang yang bangun tidur dan merenungkan tentang kunci sukses hidupnya…,
jendela kamar bilang, “Lihatlah dunia luar!”
langit-langit kamar berkata,”bercita-citalah setinggi mungkin!”,
jam dinding berdetak, “setiap menit itu berharga!”
cermin bergumam, “Berkacalah sebelum bertindak!”
kalender berbicara, jangan menunda sampai esok!”,
Pintu berteriak,”Bukalah hidupmu dengan semangat dan bergeraklah!”
tapi yang wajib diperhatikan adalah pesan bijak permadani lantai, “Bersujudlah dan berdo’alah”

Alloh selalu punya cara untuk memberhentikan setiap aktivitas kita, sejenak fisikku teristirahatkan karena sakit yang kembali menyerang aktivitasku. Namun, pikirku masih menerawang jauh ke sana ke alam aktvitas dakwahku. Ada banyak amanah yang terabaikan karena sakitku ini, semoga masih bisa tertunaikan dengan baik, meski secara waktu telat. Tapi, aku yakin Alloh selalu punya cara dalam menolong setiap kebutuhan hambaNY…, Bismillah

Bersama siapa pun, pastikan kita saling menumbuhkan. Bertumbuh dalam hal apa pun terutama bertumbuh untuk terus mengenalNY dalam setiap makna hidup. Ketika seorang teman menyakiti kita, maka hendaklah kita menuliskan kejahatannya di atas pasir. Agar ada angin toleransi yang meniupnya sehingga ia terhapus dengan mudah. Tapi ketika seorang teman berbuat baik pada kita, maka tulislah kebaikannya itu di atas batu. Agar tidak ada jenis angin apa pun yang dapa menghapuskannya. Meskipun ada perselisihan, tapi di sana selalu ada maaf meskipun hanya dalam diam. Satu sama lainnya saling membalut oleh kearifan dan jiwa pun semakin terikat, saling tumbuh dan menyatu, seperti sabda Rosululloh saw, “jiwa-jiwa yang saling berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka saling berselisih.”[H.R. Muslim]. Kita memang perlu untuk saling menumbuhkan dan menguatkan satu sama lainnya. Maka bertumbuh itu akan berbeda dengan hidup, krena bertumbuh jauh lebih luas dari hanya sekedar hidup.
Mari saling menumbuhkan agar kita semakin tumbuh menjadi pribadi yang terus tumbuh dan saling menumbuhkan ^_^

Rabu, 19 Oktober 2011

Cerita tentang nya


TERLANJUR JATUH CINTA PADA KAMMI

“Renunganku. Yah, ini adalah sebuah renungan atas kebersamaanku selama ini dengan KAMMI selama hampir menginjak 3 tahun ini”.
—Renunganku di Bumi Siliwangi; Awal Mei 2010—


Aku mesti bersyukur kepada-Nya atas berbagai karunia yang sangat luar biasa; atas nikmatnya beriman dan berislam dalam kebersamaan bersama sahabat-sahabat seperjuangan di KAMMI. Sungguh, ini semata-mata bukanlah suatu kebetulan, melainkan rencana-Nya. Alhamdulillah,  aku bisa berada dalam barisan dakwah ini bersama mereka; wa bil khusus di KAMMI.
Ada sebuah keunikan tersendiri selepas membaca buku dan membedah bedah buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI (MAMK). Keunikannya aneh dan terkadang membuat aku tersenyum-senyum. Mengapa? Karena aku mengenang perjalanku bersama mereka, sahabat-sahabat seperjuanganku di KAMMI selama ini. Selebihnya aku menangis. Yah, aku menangis bukan karena cengeng atau mengikuti orang lain selepas membaca MAMK tapi lebih kepada nuansa hati yang tak tergambarkan. Ya karena…..akulah yang merasakan apa yang aku alami, yang boleh jadi mungkin sahabat-sahabatku yang lainnya pun pernah merasakannya.
 Jujur, kini aku menemukan kembali semangat dakwah yang dahsyat, semangat para pemenang dan pejuang dakwah. Ya, aku mengenang mereka adalah pemenang. Mengapa? Karena lewat tangan-tangan merekalah nilai-nilai dakwah ini masih tersambung hingga saat ini. Segala rasa, cita dan citra dakwah aku peroleh dari sini dan di sini. Walau hanya salah satu sarana, namun aku rasakan itu di sini; tentu selain dari sarana yang lain. Meminjam perkataan Pak Aris Ahmad Jaya dalam buku 30 Hari Mencari Jati Diri, “Sang pemenang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak akan pernah menang”. Rumus praktis sang pemenang, “Sang pemenang tidak melakukan sesuatu yang beda, pemenang hanya melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda”. Dan kutemukan mereka-mereka yang tak kenal lelah dan menyerah itu di sini, aku menemukan mereka di KAMMI ini. Mulai dari kader yang super tegas mengurusi kader dan keunikan lainnya yang kadang itulah yang menjadi pembeda kader KAMMI dengan kader dakwah lainnya; “kadang tak mau diatur dan agresif terhadap wacana yang ada, luarbiasa……”, itulah kata yang terucap saat ini.
Saya masih teringat akan perjalanan selama hampir menginjak 3 tahun ini di KAMMI. Beberapa hal masih terrekam jelas dalam memori; serasa baru kemarin mengalaminya. Mulai dari Training Kepemimpinan Tingkat I (DM1), kajian rutin dan beberapa aksi yang sempat kuikuti. Out Bound (OB) yang sempat kualami sewaktu mengikuti Dauroh Marhalah 2 (DM2) di Daerah Bandung adalah salah satu yang membuat kuingin meneteskan air mata. Ya, itulah saat-saat di mana aku dan sahabat-sahabatku sebagai peserta DM 2 melakukan perjalan malam layaknya para pejuang Islam terdahulu yang berangkat berperang atau pun berhijrah di sepertiga malam. Sepanjang perjalanan yang terbesit hanyalah, “Mungkinkah ini waktu terakhirku berjuang bersama-sama dalam meneggakkan Islam?”, “Keluarga, Teman-teman seperjuangan di Tasikmalaya”, namun hal itu tidak lama karena aku sadar mereka sekarang berada jauh di sana dan aku memang sedang berjuang di sini.
Dauroh Marhalah I KAMMI Komisariat UNSIL membawa angin segar dalam hati dan jiwa-jiwa perindu surga-Nya. Ada ketegaran mengiringi kebeberlangsungan agenda ini, ada peluh dan keluh yang seolah-olah berusaha tak diperlihatkan—semacam di sembunyikan—dari wajah-wajah tegar itu. Ada tawa yang menyertai semua kelelahan fisik mereka, tapi ada semangat (hamasah) dalam jiwa-jiwa pejuang dakwah masih menjadi suluh yang terpecik dalam tatapan mata mereka. Dalam pikiranku terbesit, “Inilah salah satu kekuatan untuk kebangkitan Indonesia. Pada saat ini masih ada sekelompok orang yang mau rela-rela mengorbankan dirinya di saat orang lain tidur terlelap dan berakhir pekan. Wahai saudara-saudariku, tenanglah, surga Allah telah menanti kedatangan kita, dan itu sungguh menggiurkan kalau saja kita tahu, yakin Indonesia pasti bangkit”.
Ya, walau sederhana, ini adalah sedikit kenangan yang sempat kuungkap melalui goresan penaku. Sahabat-sahabatku, coretan ini tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan kalian. Kalian adalah tempat aku belajar mengenai banyak hal; mengenai perjuangan, pengorbanan, keteguhan dan ukhuwah. Semuanya aku temukan di sini. Ya di KAMMI. Aku memperoleh keistimewaan di atas nilai-nilai itu bersama sahabat-sahabat semua, dari sahabat-sahabat semua.
Sahabat-sahabat, perjuangan ini tak kan berakhir di sini, dalam bentukan coretan sederhana. Ini hanyalah percikan kecil. Karena aku percaya bahwa perjuangan ini akan kita lanjutkan hingga agama Allah ini menemukan takdir kejayaannya bersama kita dan penerus kita. Selanjutnya, kalau selama ini ada tingkah, sikap dan lisan yang melukai hati dan perasaan, izinkan diri ini tuk memohon maaf. Aku bukanlah siapa-siapa, karena aku masih belajar menjadi yang terbaik. Karena itu, sempurnakan kekuranganku dan kuatkanlah kelemahanku. Karena sahabat-sahabat semua, aku bukan siapa-siapa.
Akhirnya, mudah-mudahan coretan ini menjadi saksi persahabatan dan persaudaraanku dengan kader-kader KAMMI; untuk sebuah ide dan cita-cita: Bangkitkan Indonesia, Menangkan Islam! Sahabat-sahabatku, selamat berjuang![editor : Pak Syamsudin Kadir]